Kamis, 05 Juni 2008

Dua Puisi Panjang 2002

Sajak Mashuri

Darah

Seperti kereta,
Aku berkendara di antara rumput-rumput merah
Keterasinganku yang hitam melumat
Nafasku. Iblis
Taufan begitu bergemuruh. Mengabarkan luka
dan sejarah yang terpahat di menara
Tapi di mana bisa kutemui segala pelayaran
Tanpa menunggu terminal
Dalam buaian waktu

Lalu tubuh putih yang pucat
Mengirimkan doa, seperti tuhan yang kesepian
Dan langit yang mengguyurkan sedih
Pada mata pisauku
Darah,
Kusebut darah
Dalam impian kesekian. Ketika gemuruh cahaya
Menampar lumpur sawabku
Kabut-kabut berdentum
Lalu kurubah arah perahu
Kurebut farji dari perut bumi
: aku laki-laki

Tapi siapa yang bisa memastikan
di setiap teminal, pemenang pertempuran
Seperti abad yang berlari
Dan gerimis mendaki
Memamerkan segala kesedihan dengan air mata
Padahal amarah menjelma kunci utama
Pembuka surga.

Mungkin daun-daun gugur
Tapi ia gugur bukan untukku
Ketika alam telah mendendangkan kematian,
Maka segala kepala menjelma belukar
Segala harapan menjelma ular
Dan kurebut cahaya dari segala puting jaman

Mungkin dalam puting beliung, semacam periuk
Raksasa
Kutasbihkan kesombonganku
Kuremas segala sisi manusia
dari darah, daging dan impian
Lalu kulaknati kelemahanku seperti serigala

Ketika kuberkendara, taring-taringku
Berjuntaian seperti akar beringin
Melilit ibu, tubuh telanjangnya
Dan memperkosanya di sebuah altar
Tempat yang segala nista tersebar
Di sana, ada raja,
di sana jaman telah menyerahkan dirinya

Lalu duniaku, dunia anak-anak yang bisu
Bermain kereta dari pasir
Mengendarainya dari bukit-bukit, mengulum waktu
Dalam waktu
Menyampaikan kabar terakhir dari batu
Bahwa dunia ada, karena darah tumpah

O sang jagat, berilah tubuhku kehendakmu
Berikan belati yang menancap di kutub-kutubmu
Aku akan berkendara dengan kereta
Bintang-bintang
Memerkosa setiap perempuan
Dan merobek setiap garba dengan gigi teringku

Aku akan mengembalikan segala yang nista
Seperti tubuhku, tubuh dunia
Tubuh segala yang bernafas dengan udara
Udara yang penuh api

Lalu setiap rumput yang mengering
Seperti kemarau
Ia gemeretak di setiap ubunku, di setiap sahwatku
Ia merindukan segala hujan
Dari mulut langit
Dan segala yang gugur dalam kekeringan
Menjalin darah
Dalam puisi
Lalua mencampakan risalah
Di kali
Sebab setiap yang bernama kesucian
Hanya tempat untuk menistakan dunia

Mungkin keretaku yang rapuh
Akan tersepuh dahan-dahan matahari
Kurebut segala ilham dari sengkarut waktu, tubuhku
Dan segala pengorbanan di alamku

Kucobai kemanusiaanku dengan gaib
Seperti tubuhku yang raib
Ketika segala impianku membentur dinding kosong.
Seperti wahyu, aku berlari, tanpa tali temali,
Tanpa sayap-sayap.
Kuundang jibril dengan ketelanjanganku
Lalu waktu
Seperti lingakaran-lingkaran penuh,
Matahari yang purnama
Gerhana seperti penantian
Dan gelap dalam bayang

Tapi adakah segala yang bermuara pada cahaya akan
Datang
Suatu hari
Ketika segala pasti
Dan yang berubah hanya sementara

Kupuja kekekalanku
Kekekalan jiwaku
Kekekalan kekalahanku
Jika kelak, kubertemu dengan seribu galaksi
Kusebut ia neraka,
Lalu kulabuh segala yang tersisa dalam api
Sebab segala yang berwarna merah
Hanya mencerminkan sebuah gairah
Gairah busuk!

Mungbkin harus kundang kembali adam
Dalam awal mula
Ketika ia masih buta pada arti sejarah
Lalu segala menjadi asing, aritmatika demikian sederhana
Sebab yang ada bukan hanya cakrawala

“Eva, lihatlah segala muara, delta
dan segala pelabuhan yang disandarkan di bahumu
Engkau tak butuh nabi. Nabimu adalah bumi,”

Seperti waktu, jejak-jejak itu semakin berat
Keretaku semakin sarat
Pasir hitam mengahablur dadaku
Cawan gelap mengubur lukaku
Lalu kugambarkan segalanya
Dalam segenggam ingatan
Dan kutuliskan dalam separoh khayalan
Bahwa aku ada,
Karena aku pernah berdosa.

Saksikanlah,
Tubuhku penuh luka
Tapi luka itu bukan milikku semata
Dunia demikian bebal
Dan kubebankan segala kebebalan pada sang kala
--nujum dewa-dewa—
Tapi siapa bisa memilih

Seperti kereta,
Aku berkendara
Rumput-rumput kering
Kemarau
Dan dingin mengulang segala penciptaan
Kelahiranku, kematianku dan mimpiku kuabadikan
Dalam duka
Duka yang memanjang, memanjang
Dan mengubur segala ketelanjangan
Telah kucari sebuah terminal,
Dan aku tak ingin mnemukannya
Aku hanya ingin menyaksikan darah
Menetes
Dari luka yang tak akan pernah sembuh
Sepanjang sejarah
Sebut aku kafilah!

Surabaya, 18 Juli 2002
*Terdapat dalam kumpulan puisi berempat: Manifesto Surrealisme (FS3LP dan Galah Yogyakarta, 2002)

Sajak Mashuri

Nyanyian Hujan
--requiem anak bajang
dalam bayang-bayang
sang kala--

Aku memaknai setiap lembar hujan
dengan ingatan
dengan tafsir batu-batu yang tumbuh di keningku
Sebab kabar yang berkejaran pada papirus tua
adalah langkah yang tak pernah sampai

Jika dari jendela, dingin menjelma asap
Uap gigil. Bayang ketakutan
Aku berpendar dalam cahaya anak-anakku
Karena ia tahu, kapan kereta berangkat
dan menyisakan goresan di beranda
Lalu rumah-rumah lungkrah.
Ketiadaan menjadi taring babi hutan
Dan riwayatku, serpihan kardus pandora,
hantu, dan seribu malaikat dari neraka

"Kenapa kau mengandaikan keabadian
di puncak stupa, dalam arca telanjang"

Akulah kafilah, pengasah pedang dari jagat maya
Tapi selaksa pesona tubuhku
adalah sisa reruntuhan, ornamen orgasme,
dan kutuk lingga yoni, di jalan bercecabang ini.

Jika suaraku terdengar di dasar malam
Ia tidak lolong srigala
Ia rajutan ombak, suara kelelawar,
dan kegilaan pada kata
Mungkin aku berkejaran, tapi pelarianku
begitu nisbi, ketika maut merenggut
dan labirin ingatanku demikian gelap
Haruskah aku membangkitkan belulang
Menjadi serdadu dengan senapan kayu,
tombak, dan seragam lurik.

Pada nisan, seonggok tanda tersisa
Seperti puing,
ia tak rela kehancuran memuncak
Namun hujan telah mengantar raib, pada gaib
Menyelusup awan. Menjaring gemintang
Dan ingatanku pada ranah yang pernah ada
dengan tahta pelangi,
telah luntur dalam birahi.
Karena sepasang arca di pinggir gapura
Mengabadikan senggama
Ia berkata tentang maut
Maut yang bermuara pada renggut
Saling menyepi, memberi, dan berlelehan.

Di taman, mawar mekar susu
Dan seluruh penghadapan bisu
Seperti kebisuan pada tubuh-tubuh telanjang
Dengan gerak yang miskin
Dengan kediaman yang lazim
Roh berjajar roh. Jasad blingsatan
Sebab senyap, bukan untuk dicipta

Setelah gerimis, maut meracuni bibirku
Kukecup ketiadaan.
Seperti rumah-rumah, raja, dan sebaris tentara
dengan perisai kertas.
Tapi suaraku sirna dalam hujan
Mengalir di kali-kali, ngendon di muara
dan menjadi ikan-ikan di lautan

Ketika seorang perempuan membasahi tubuhnya
Aku berbisik tentang cinta dan kerinduan
O, rumahku telah bangkit
dalam raga ranum, bibir merekah, dada membuncah
Tapi di mana kau simpan gairah binal
Sebab tak ada puting, tak ada ceruk
Sebab ia boneka
--silam yang terpuruk-

Di pasar, boneka menjelma dermaga,
tempat bersandar dunia. Dunia baru
yang melupakan ritmis gerimis, tetes embun
dan nyala damar.
Di sawahku, rerumput tumbuh
Liar, berpinak, mencipta gugusan koloni
Hujan turun satu-satu. Merakit huruf abu-abu
Aku membacanya dalam pedati,
dalam bajak yang rapuh, dan pematang ringkih
dalam sebuah cakrawala senja

Tapi maut, maut merenggutku pada masa lalu
Tak ada tawar tentang kehadiran
Sebab jejak hanya timur yang nestapa
Karena kehilangan
Dan waktu yang tak berpihak

Ketika batu-batu tetap batu
Dengan pahatan aksara asing
Aku membuka lontar;
Membaca dunia. Dunia yang tak kukenal
Dalam kapal-kapal yang berlayaran, dalam kanal

Pantai-pantaiku adalah penghabisan
Lalu kusebut sayonara
Sebab kematian benar-benar datang
Kukirim boneka rumput ke angkasa
Kukaji titik-titik air dengan rayuan
Aku beterbangan dari dahan ke dahan, dari benua,
Dengan nafsu membara, birahi membakar
Dan dosa penafsiran yang kekal

Ketika hujan turun ke bumi kembali
Aku menangkap maut di kerlingnya
Batu-batu pecah
melengkapi reruntuhan rumah
Aku mencipta aksara
dari kebengisan, hantu-hantu, tinta hitam
Mautmu adalah rohku.
Aku telah merebut waktu

Di kaki langit,
Bangau terbang rendah. Padi-padi menguning
Dan rumpun bambu di belakang rumah
Memberiku kabar dan makna, tentang jaman nista
Kota-kota menjadi raksasa
Seperti jam yang terus berputar

Dan ingatanku begitu dingin, seperti lelehan es
Yang berjuntaian di ufuk. Menjelma cakar-cakar
Menakutkan
Tapi aku punya rayuan untuk sebuah perselingkuhan
Untuk sebuah birahi

Untuk dewaku birahi
Seperti jawab yang bertebaran di kaki langit
Seperti cahaya yang membias di gelas-gelas kaca
Mencipta horison, keping harap
Pada pertalian sukma
Sebab senja tak akan mengajar malam
Menjadi sia-sia dengan nalar bertuba

Tapi sekali maut tetap maut
Rumahku kosong. Aku menyingkir ke benua lain
Menjelma orang-orang lupa
Di mana tanah kelahiran, di mana biduk
sajak dan kapan hujan.

Dan aku akan memaknai setiap lembar hujan
Dengan ingatan yang tersisa
Seperti kekosongan, saling silang, perang,
serang, dan pemerkosaan

Tik!

Seperti suara waktu
Berlepasan, rubuh, patah dan jatuh
Seperti aku,
Berzinah di antara puing reruntuh

Dan dalam persenggamaan liar
Dengusku membakar dunia. Dunia lain, duniaku
Duniamu; wilayah lahat, di kolong jagat,
Dan rupa nyawa yang beterbangan

"Antarkan aku dengan suaramu,
dengan nyanyianmu. Aku tak butuh doa"

Tetapi kenapa kematian pun butuh nada
Apakah dalam kematian menyimpan suara,
Gending-gending dari negeri antah berantah
Yang membahana di gigir tebing, di tubuhmu
Di langit-langit, dan lukisan yang tak pernah selesai

Seperti juga aku, telah memberi arti
Pada nafasmu
Aku akan berdiam dalam lanskap sederhana, pagupon
Seperti seekor burung dara
Yang menjemputmu dalam udara
Karena nyanyian ini hanya menumbuhkan iri,
Keberangkatan yang memusat,
dan perjalanan di kota-kota tua yang tak pernah tamat

Seperti perjalananku pada notasi lekuk tengkukmu
Dengan bulu-bulu halus, kerling yang terencana,
Dan sebuah sapaan yang liar
Kenapa semua bersatu dalam tubuh
Laksana sepotong bukit yang menyimpan cemara,
Gugusan lumut, dan ular berbisa
Kapan aku selesai menyapu dengusmu,
Atau pada penghabisan di pucuk-pucuk buluh
Dengan derit angin dan daun-daun gugur

Jika jubahku basah, isa telah mati di mataku
Lalu katakan padaku tentang tembang itu
Karena aku ingin mencumbu senyap
Di sebuah keranda
Yang tak tertulis apa-apa

Tapi kesangsianku pada bayonet yang menghunjam
Dadamu, seperti pintu
Ia terbuka ketika usia tertutup
Salju
Seperti gunung-gunungku, dengan deru angin
Yang dingin
Dan keagungan yang menyakitkan

Sebab dongeng yang terngiang dari bibir ibu
Menjelma rentetan peluru. Merebus ingatanku
Dan rumahku yang menancap di tubuhmu
dengan tiang payudara, dengan ranjang liang senggama
adalah butiran-butiran gandum,
dan seekor gagak bertengger di wuwungan
untuk bersuara kematian

Mungkin sejarah yang tergurat di dinding goa
mengasingkanku pada seonggok bangkai,
pada kapal yang karam, dan sebuah tanda tanya
tentang rerumputan liar

Tapi seruling gembala, dalam desahku
adalah halilintar
Izroil akan pamit padaku
Untuk menyanyikan dendang sabda
Sebab waktuku, dengan riwayat yang menggumpal
Di kakimu; menyisakan jejak-jejak kabur,
partitur usang, dan sebuah lagu sumbang.

Jika jejak itu terhapus
Aku berubah naga. Nafasku membakar
Mendedah sawah, mengemas jazirah
Menjadi bongkah pasir
Menjadi pantai-pantai
Dengan sebuah legenda berapi-api

Dan kusebut namamu, waktu, gadis sepiku
Sebagai kota-kota tua, seutas rahasia,
dan sebuah peta lungkrah.
Tapi aku mengingat tubuh putihmu,
Hawa sahwat dan sebuah rayuan kematian
Seperti sihir

Mungkin nyanyian itu sebagai tanda
Tak ada yang menyatu, tak ada yang berpisah
Sebab maut bukan soal waktu
Ia adalah karpet tua, gelas berukir,
dan seorang petani desa

Kelak, ketika ranjang pengantin kita sempurna
Aku akan bermimpi tentang sebuah pernikahan
--kau pengantinku, aku pengantinmu-
Tapi impian bukan tamsil kematian
Ia akan menjadi ruhku,
Seperti opera dengan cerita yang sirna
Atau pengkhianatan kata-kata, peleburan mantra.

Jika kau dengar requiem ini,
Aku telah berlari dari keterasinganku
Pulau-pulau muksa, seperti asap pembakaran dupa
Gerimis dan pongahmu akan jatuh ke bumi

Rayap-rayap membuat rumah
Lalu saling berkisah tentang kafan yang kusut
dan sepasang biji mata yang tak terpejam

Aku menjadi bayang-bayang, dalam kelir yang mengalir
dalam dosa warisan, dan pertaruhan kura-kura
di telaga
Aku berkata tentang penghabisan

Lalu kau kusebut bunga, gadis sepiku
Dengan ingatan tabu, dengan serpihan silsilah
Yang berpatahan di kitab-kitab lama
Kutulis namamu di pelepah korma, sebagai nisan.
Mengenang hujan.
Dan pelayaranku akan abadi di kapal-kapal tua
Seperti ziarah burung-burung
Tubuhku bersayap
Dan setiap jengkal tanah adalah ibarat
Seperti lambang dada, dalam kepastian yang tiada

Setelah pembakaran itu, gerimis menipis.
Kesucian, kesunyian menjelma rongsokan,
arang dan abu jenazah yang menghitam
Seperti larung yang mustahil.
Dan gaib, hanya igauan anak-anak bebal
Sebab pohon-pohon kelapa berjajar,
Buih saling kejar
Dan peta membenam dalam pasir
"Tak ada kekekalan. Sebab yang kekal
hanya pantai dan pantat yang landai"

Dan kematian adalah sia-sia,
kerja yang tanggung, dan serapah
yang lunas dalam cuaca
Tapi kenapa kematianmu begitu berarti,
Hingga butuh nada tinggi
Adakah kau yang menyimpan palu pembongkar
Dalam irama hujan

Lalu kenapa kau kirim tanah seharum ini kepadaku
Ingatanku telah lapuk. Berpagar nisan
Seperti pulau-pulau tak bertuan,
Nisan tanpa nama, tanpa alamat dan tanggal.
Sepi. Gadis sepiku

Dan hujan memercik diamku dengan nyanyian
Nyanyian anak-anak desa dengan luka-luka
Di dada
Aku telah tersayat kilau pisau
Kulitku tergores ilalang di padang
Dan suara atap yang meratap
Menyingkir ke lembah segala lembah. Rahimmu
Rintik yang mengundak mistik
Melepas gerak
Pada riak-riak, pada notas gaib sang waktu

Dan tanah ini biarlah kusematkan pada mata
Bonangku, seperti liukan selendang ibu
Di rumpun bambu, batas waktu

Tik!

Seperti suara waktu
Berlepasan, rubuh, patah, dan jatuh
Seperti aku,
Berzinah di antara puing reruntuh

Anak-anak yang terlahir dari rahimmu:
Anak-anak jadah,
penguasa neraka. Pengutuk segala amsal
Setelah nyanyian hujan,
Aku berlarian di luar waktu
Mengumbar liarku pada senggama
Senggama di bawah pohon sakura
Dalam musim semi, dengan bunga-bunga

Dan kulihat matahari seperti telor mata sapi,
Seperti liang peranakan
Dengan rumbai-rumbai putih, dalam karnaval
bocah-bocah yang tak mengerti arti cuaca
Lalu waktu adalah kekosongan
Kekosongan yang begitu dingin
Menggigil
Bugil

Aku telah memaknai setiap lembar hujan
Dengan ingatan
Dengan tafsir asmaragama yang tumbuh di keningku
Sebab dalam gurat kitab-kitab lama
Aksara seperti pahatan lingga, pahatan vagina
Dan mengekalkan persetubuhan kala
Di tubuh dunia, tubuhku

Dan setiap rintik hujan, mengekalkan kematian
Kematian waktu


Surabaya, Januari 2002

2 komentar:

Gina mengatakan...

Sangat mempesona. Selalu terkesima oleh kata-kata dalam sastra.

Pendekar Banten mengatakan...

Mantapppp