
Ajang Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) 2008 memberiku kesempatan mejeng di Museum Antonio Blanco.
Mimpi-mimpi Sastra dan Seni
Oleh Mashuri
Kawanku Paul yang baik
Aku telah membaca sajak-sajakmu. Ketika kau bagi sajakmu menjadi tujuh bagian, aku teringat pada martabat sab’ah karya Al Burhanpuri, juga teringat pada maqomat tujuh dalam dunia sufi: sebagaimana Athar melukiskannya dengan sangat baik dan imajinatif dalam: mantiq at thair. Aku berkata begitu, karena sajak-sajakmu mengajakku berenang ke dunia ‘dalam’ itu, sekaligus menyelaminya. Meski terus terang, aku ingin menolaknya. Entah kenapa aku selalu merasa belum waktunya untuk menyelam ke dunia yang selalu bersintuh dengan riuh langit itu. Aku masih terlalu gandrung pada ‘karang langit’: terjal tapi menggigit.
Namun, ketika aku berusaha untuk bertaklimat pada maqomat tujuh dalam kumpulan sajakmu, aku pun tahu, bahwa tujuh di situ bisa jadi hanya pembagian teknis semata, tanpa tendensi ke arah
Meski begitu izinkan aku untuk masuk ke sajak-sajakmu dengan pendekatan sufi itu, karena ada beberapa hal yang terasa ‘berharga’ dan pas bila aku memasukinya lewat itu. Pun pintu dan jendela yang disediakan oleh sajak-sajakmu mengarahkanku pada dunia itu. Tentu aku tidak ‘lepas landas, karena perangkat puisi masih tetap di kedua genggaman tanganku. Seringkali aku berkata pada orang-orang bahwa ketika seorang penyair sudah sampai pada inti, maka ia berjajar dengan sufi. Tapi ruang keduanya berbeda. Sufi adakah sufi, sedangkan penyair-sufi adalah seseorang yang telah mengetahui sumsum dan darah bahasa. Orang yang kelewat keras kepala untuk menukik ke lubuk dasar kemanusiaan lewat bahasa. Ia sudah mengenal hakekat penciptaan bahasa, yang Tuhan sendiri juga menggunakannya untuk menciptakan alam raya dan seisinya dengan sabda: ‘Kun!’
Tapi Paul yang baik, seringkali kita memang terjebak pada kesufian penyair dari sudut pandang yang lain. Kesufian penyair yang karena ia menulis puisi-puisi sufi. Tentu dalam hal ini kita patut untuk takut dan ngeri karena bagaimana pun jiwa seorang penyair tak bisa sebersih jiwa sufi. Kedalaman seorang penyair dalam menyelami dunia ketuhanan tidaklah sedalam seorang sufi. Penyair hanyalah seorang yang begitu naïf untuk mereguk kesempurnaan lewat bahasa, sedangkan dirinya masih terkokang oleh nafsu badaniah semata. Dan, aku selalu menempatkan diri sebagai penyair itu.
Aku sendiri juga sangat takut terjebak dalam pusaran samudera ilahiah ini, karena aku begitu takut disebut sebagai seseorang yang sudah sampai pada pencapaian inti pencarian, sedangkan aku masih berkumpar pada masalah bahasa. Bukankah bahasa hanyalah ‘alat’, sedangkan inti atau maksud sebenarnya adalah yang tentu sangat berbeda dengan alat itu. Jika diibaratkan sebagai sebuah jalan dengan rambu, maka bahasa hanyalah rambu penunjuk arah, sedangkan arahnya sendiri masih jauh di depan. Tentu kondisi itu sangat berbeda dengan apa yang diamalkan oleh Maulana Jalaludin Rumi, yang terus berputar dalam tariannya dengan mulut yang tak henti alirkan syair, lalu murid-muridnya mencatatnya. Itu kondisi fana’ yang sesungguhnya, sedangkah aku sama sekali tak seperti itu. Aku menulis syair karena rasa pukauku pada perempuan, pada keindahan dunia, pada sesuatu yang sementara. Aku menulis syair sebagai sembah baktiku sebagai seseorang yang bergulat dalam bahasa dengan segala kontradiksinya.
Mungkin itu hanya gelisahku sendiri, Paul. Yang jelas, begitu membaca sajak-sajakmu, aku bisa tersenyum. Meski aroma sufi begitu kental dan meragi, tapi sajak-sajakmu masih sangat manusiawi, masih melambangkan pergumulan seorang anak Adam untuk menuju kesempurnaan. Di dalamnya, terdapat berbagai pertanyaan, masalah, godaan, juga hal ihwal yang bernama dunia, daging dan ingin. Aku suka sajak-sajakmu.
Meski di beberapa bagian juga aku sering masuk ke dalam ‘sumur’ yang kau ciptakan yang membuatku basah dan sunyi. Kata-kata yang kau gunakan sepanjang sajakmu membuatku turut larut dalam pencarianmu. Aku bertemu: ‘assalamualaikau, hijrah, mi’raj, dan hijab (Muqadimah), munajad, ayat, dzikir (munajad), sidrah, jibril, Muhammad, shalawat, salam, sahadat, rohani (jadzab), maqom, amien (Doa Gembala), syahadat, tahiyat, rekaat, bismillah (Lanskap Telunjuk), tawassul (langit bermata senja). Untunglah di puisi berikutnya kau bisa terlepas dari kata-kata itu, sehingga kau seperti seorang pecinta yang bebas tak terbelenggu majas-surgawi. Soalnya, begitu aku bertemu dengan diksi-diksi penuh pukau langit itu, aku seperti terbentur batu. Metafora itu terlalu keras dan utuh bagiku. Sedangkan aku mencintai metafora yang mencair yang bisa luruh dan berenang di pembuluh darahku.
Di sajakmu Muqadimah aku menangkap bahwa sajak-sajakmu memang kau cipta dalam kesadaran seorang salik:
aku datang sebagai anjing
berpijak di kegelapan purna!
Metaforamu cukup menarik dan memiliki basis kultur yang terukur. Sungguh, kita memang anjing, Paul. Jika kau mendaku begitu, aku bisa memahaminya.Tentu kita tak bisa membayangkan seperti anjing Ashabul Kahfi (Qitmir), yang masuk surga meski telah tertidur beratus tahun di goa. Kita mungkin seekor anjing kumal yang kehausan di tengah
kekasih
gelap ini
kugenggam
munajad
serapuh
ranting
hati
Pun kau masih berusaha ingkar.
aku nelayan itu
bukan nabi
yang menggambar jejak
pasir putih.
Aku juga menangkap beberapa jejak penyair kita (baca:
Aku suka sajak-sajakmu di bagian Ziarah Cinta. Sajak-sajak yang telah tumbuh dewasa. Sajak-sajak yang bisa menyimpan maksudnya dengan rapi dan membangun dunia tersendiri. Aku merasa sajak-sajakmu dalam bagian ini berbeda dengan di awal-awal. Dalam Ziarah Cinta, aku menangkap semangat sajak-sajakmu dalam bagian Lazarus. Sajak-sajak itu juga tumbuh dewasa. Aku senang karena sajak-sajakmu bisa diajak bercanda dan seringkali membuatku tak terjatuh ke lubang sumur yang kau gali dan terbentur batu di dasarnya, sebagaimana sajak-sajak awal.
lukis saja burung terbang
dalam kanvas burammu
agar anganmu pun melayang
atau,
setidaknya kau tak lagi
melukis sepi
sebagai pengembara
dan hanya bisa bermimpi.
Lamongan, 2003
Paul yang baik, dari tujuh bagian sajakkmu, mungkin bagian The Lamongan Soul yang agak berbeda. Kau bertaruh pada sesuatu yang nyata. Aku pun memakluminya karena bagaimanapun seorang penyair tak bisa alpa dari kampung halamannya.Jika ia pergi jauh, maka kampung halaman itu adalah oase tempat ia istirah untuk mereguk sejuk air dari sebuah perjalanan panjang nan kerontang. Jika ia dekat dan selalu bergumul, maka kampung halaman (yang di dalamnya terdapat ingatan, kenangan, pengalaman dan lain-lainnya) adalah tempat mengasah kepekaan yang tak tertandingi. Ia adalah harta karun bagi penyair.
Tapi yang mengganjal di hatiku adalah kau menggunakan kata Inggris untuk menyebut ‘jiwa’. Meski di puisimu yang lain kau menggunakan judul Inggris, tapi dalam bagian ini jelas menyimpan sebuah ‘kesan’ yang lain. Itu memang hak prerogratifmu sebagai seorang pengarang, tapi jika itu aku maka aku akan menggunakan kata ‘atman’ atau ‘sukma’. Hal itu lebih senada dengan enam bagian sajakmu lainnya. Jika kau mengangankan puisimu ini sebagai sebuah komposisi simponi, maka kau telah menciptakan sebuah ‘disharmoni’. Jika itu memang kau sengaja, ah alangkah indahnya. Tentu indah di sini adalah alternatif dari sebuah simponi yang merusak harmoninya sendiri (komposisi simponi dengan citarasa postmodern). Dengan kata lain, di dalam harmoni juga menyimpan disharmoninya dan itu bukanlah cacat ciptaan tapi niscaya. Mungkin aku terlalu udik dalam hal ini. Maafkan, kelancanganku.
Meski begitu, aku suka diksi yang kau gunakan dalam puisimu Kali Lamong. Terasa benar Lamongan-nya. Aku suka musik yang tercipta dari diksi-diksinya. Terkesan otentik dan menggelitik.
sementara bocaboca telanjang mengarungi
jeram riciknya
dengan sorai nyanyian
dengan rumbaian dan tambang
ingin membangun jembatan
Sampai di sini dulu, Paul, kawanku. Maafkan aku yang dalam kesempatan ini kurang bisa berpanjang lebar menggelar sajak-sajakmu di ruang rasa dan pikiranku. Semua itu karena keterbatasanku. Jika kelak masih ada waktu, aku ingin bertemu dengan sajak-sajakmu dalam kesempatan yang lain sehingga aku bisa mengirimkan kembali
Wallahu muwafiq ila aqwamit thariq!
Siwalanpanji, 2008
Jalan Simpang Kritik Sastra di Jawa Timur (Juga Indonesia)
Oleh Mashuri
“Seorang kritikus sastra adalah seorang sastrawan yang gagal,” demikian pernyataan seorang pesastra
Sebuah ekologi sastra dikatakan berimbang, jika rasio antara penulis, karya, pembaca dan kritikus sastra juga berimbang. Di Jawa Timur, kondisinya cukup memprihatinkan karena karya sastra terus tumbuh, baik itu bergenre prosa maupun puisi, tapi kritiknya langka.
Kegunaan kritik sastra meliputi tiga hal utama, yaitu kegunaan pada ilmu sastra, penerangan/jembatan pada masyarakat/pembaca dan bagi perkembangan kesusastraan. Jadi kritik dalam dunia sastra bukanlah mencemooh atau menimbang baik dan buruk saja, tapi juga mengungkap sisi tersembunyi dan sisi yang tak tertangkap oleh pembaca umum/awam yang terkandung di dalam karya sastra tersebut. Selain itu, kritik sastra juga berguna terhadap ilmu sastra karena dari kritik inilah dimungkinkan muncul teori sastra baru. Begitu pun dengan perkembangan sastra, karena dari kritik inilah sangat mungkin muncul sejarah sastra baru dan bisa menjadi tolak ukur perkembangan sastra.
Anggapan Keliru
Selama ini, ada anggapan salah di publik kita, bahwa kritik selalu berorientasi negatif, padahal dalam sastra kritik adalah tafsir dan takwil pada karya.
Dalam tataran ini, seorang kritikus bukanlah orang yang gagal dalam berkarya, sebagaimana pernyataan pesastra
Bisa jadi ungkapan ‘kritikus adalah sastrawan yang gagal’ adalah sebuah ‘black humor’ dalam kehidupan kreatif sastra dalam sebuah ekosistem sastra. Sungguh itu hanyalah sebagai sebuah humor semata. Bisa jadi, humor ini bermula dari kiprah HB Yassin yang dikenal sebagai kritikus sastra Indoesia berwibawa yang menekuni kritik karena karya-karyanya dianggap gagal.
Sastrawan Sekaligus Kritikus
Jika kita melihat daftar sastrawan kita lebih banyak yang merangkap juga sebagai seorang kritikus sastra dan dikenal sebagai kritikus yang handal. Dari Jawa Timur bisa dilihat pada sepak terjang Budi Darma. Penulis novel mashur Olenka ini tidak hanya seorang sastrawan, tapi juga ahli sastra dan seorang kritikus sastra berwibawa. Selain itu, dari kalangan sastrawan Jawa Timur bisa dilihat pada kiprah Akhudiat, Bonari Nabonenar, Moh. Shoim Anwar, Budi Palopo, Tjahyono Widiyanto, Tjahyono Widarmanto, S Yoga, Ribut Wijoto, Indra Tjahyadi, Imam Muhtarom, Achmad Faisal dan lainnya. Sedangkan dalam jagat sastra Indonesia, sekadar menyebutkan adalah Sapardi Djoko Damono, Soebagio Sastrowardoyo, Goenawan Muhammad, Afrizal Malna, Abdul Wahid BS, dan lain-lainnya. Umumnya kritik sastrawan bukanlah pada karya sendiri tapi pada karya orang lain dan perkembangan sastra.
Kiranya bukanlah sesuatu yang tabu bila seorang sastrawan juga merangkap sebagai kritikus sastra. Ini bisa dijadikan solusi bagi kelangkaan krikitus sastra di Jawa Timur. Selain untuk menyeimbangkan ekosistem sastra di Jawa Timur, bisa juga digunakan untuk menyampaikan gagasan, ide dan pemikiran sastranya. Seorang sastrawan yang cerdas memang harus bisa merumuskan gagasannya dalam berkarya, karena sastra adalah dunia pemikiran dan gagasan dan bukan sekedar pengrajin kata-kata.
Sebenarnya kelangkaan kritikus sastra di Jawa Timur adalah kasus laten dalam kesusastraan
Selama ini ada beberapa kritikus sastra yang sudah dikenal di Jawa Timur, tapi sangat jarang yang berusaha untuk membahas karya-karya sastra yang tumbuh, berkembang dan berlatar sosio-kultur Jawa Timur. Sebenarnya, dari sini, juga menerbitkan beberapa tanya: Pertama, benarkah karya-karya sastra di Jawa Timur yang regional itu belum layak untuk dibahas dan disejajarkan dengan karya sastra yang bertaraf ‘nasional’. Kedua, bukankah karya bagus mulai bermunculan di Jawa Timur dan beberapa sastrawan Jawa Timur sedang naik daun dan menjadi perhatian publik dan disorot media nasional. Ketiga, apakah masih pas untuk saat ini dalam memilah antara regional dan nasional. Kiranya, waktu yang akan menjawabnya. Yang penting, habitat sastra di Jawa Timur harus seimbang, sehingga rotasi pengetahuan bisa berjalan dengan harmonis, nyaman dan kehidupan pun semakin indah dan bergagasan. (*)
Sajak Mashuri
2
jika kau menjelma perahu
dan rambutmu dengan ronce melati adalah buih
bahasa apa yang harus kulisankan
dengan lidah pejantanku
hanya tulisan di batu
serupa tugu, dengan segala kenangan, ingatan
dan rahsia mengekal
memberiku pilihan
lalu ombak-ombak itu, dengan gelombang pasang
laksana sejuta serdadu
menghambur kaki langit
dan sebuah senja memesan kopi pahitnya
hingga malam merengkuhnya di pembaringan
dengan rasa sakit
cahya
hanya cahya yang berkilat dari pundakmu
yang menuntunku
pada tiga tiang layar
dan kemudi di buritan
mungkin waktu dengan mata pedangnya
juga harus undur
mempersilahkan kengangaan lewat
lalu lumpur-lumpur, dengan pasir beracunnya
memberi kutukan
seperti kutuk pada kebebasan
amsal pengkhianatan tapi benarkah kuingin terpatri
di bibir bawahmu, di antara belukar
dan rimba
dengan kijang-kijang liar dan trengginas
atau hanya kesepian
yang melecutmu tuk menarikku pada permainan
tapi gemas pinggulmu telah berkirim khabar padaku
bahwa segala yang bulat
tiada lain adalah tuhan, mawar dan remah roti di musim
paceklik
lalu aku berkendara angin
menyambarmu
dan melumatmu
dalam wujud tak berwujud
dalam muksa tak muksa
dan segala indera
hanya berbagi dengan rintih, nyeri
kengerian, selalu memanggil datang
untuk mengulang
dan mengulang
ritual, upacara
atau metamorfosa kupu-kupu dan bunga
mungkin di atas ngilu itu, dewa-dewa
menitiskan gamisnya
lalu tubuhmu yang polos
mulai berpakaian
mengenakan sarung tangan
dan bibirmu
dan anusmu
dan segala lubang yang menganga
di tubuhmu
mencipta pagar
agar segala rahsia, tetap mekar
dan tumbuh menjelma ular
sungguh aku hanya mengintipnya dari renggang jemariku
tapi nafasmu dengan ruap embun
laksana pantun
sebuah derap yang dapat diraba
tapi setelah jejak-jejak itu kabur
kau adalah lesit
yang menghisap darah
untuk darah
lintah dengan mulut-mulut api
yang membikin bara dengan jerami, rerumput
hitam, semacam sahwat
dan mengundang burung-burung
untuk hinggap dan mematuknya dengan lahap,
liar dan mencengkeram
sayang yang kuingat dari dirimu
hanya sebongkah kata
sebaris ucap, seperti sapa
dan layar yang tergerai di pahamu
mulai menyingkap
lalu perahu itu melaju
dengan haluan berbuih-buih
dan suar pun memejamkan mata
untuk menyaksikan adegan-adegan kejam
pentas yang tak pernah tuntas
untuk selalu mencipta merih
merih tak terandai
berkejaran di lorong malam
hingga sungai dengan ikan-ikannya
menyesak pantai
hingga jeram dengan arus tajamnya
menjelma landai
dan siapapun adam yang bermain sampan
akan terkutuk sebagai pengkhianat
lalu mengubah arah jarum jam
membelah kepala, mengunyah jantung
dan melarikan segala yang bernama
pada sang tiada
hanya maut
maut yang berpagut dengan gelinjang
dalam tarian
ketika sahwat menjelma khalwat
dan bibir mendengus: baiat! baiat!
maka tubuh hitam akan semakin hitam
membaca ketaksadaran dengan luka
luka tubuh
yang dirajam batu
dan seribu duri tumbuh dari tubuh
selama berwindu-windu
mungkin hanya di pantaimu
aku melihat waktu merintih
mati
dan kebebasan itu telah mengutukku
untuk menyemaikan lisong
ke mulutmu
dengan asap yang membubung
lenyap, suwung
Puisi Mashuri
Tanjung Kodok, Cintaku
di situs yang tumbuh dari terumbu, aku pahatkan rindu
cintaku nan jauh telah batu: kisah-kisah
terjarah, doa-doa percuma
dan mantra: hanya nyanyi yang hilang bunyi
aku pun asing pada tanah sendiri
aku lalu lingkarkan pena di mata arca
di gapura
berharap hujan tak datang, meski mendung seperti karpet tebal
aku menyelam di matanya, membuka luka lama
tapi hanya lumut, bisu, susut dan kuyu
aku pun terlontak ke lalu dengan tubuh kaku
aku beri sesaji di pipinya yang letih
tapi uap dupa hanya menambah gelap rahasia
cintaku pun beratap daun pisang, ketika hujan menyapa
dan membangkitkan bau tanah
tanah asing kembali bergasing
cintaku pun berpusing dari relief ke relief
yang kini tinggal tebing ---sungguhkah di
terpahat, atau hanya sekelebat jemari
yang ingin berkirim pesan, menggunting zaman
agar kini bisa melaut ke kabut
dan mengutip rahasia-rahasia usia yang hanyut…
sungguh rinduku masih berderap
meski waktu memalung dan gelap
di sisi karang, di ujung tanjung,
aku pun menemukan secuil jawab
cintaku mengekal di batu apung
yang disangga laut dan lembah lembab
di situs itu, aku pun menawar luka rindu
dengan syair, pasir, juga buih yang terus mengalir
nyanyiku bukan mantra yang dirapal pelaut
tapi lagu siul agar angin tak bersiut
di situs itu, hanya kaktus yang tak lekang berakhir
ia bagai penyihir yang berharap kejaiban
agar batu kapur itu hidup dari dengkur
lalu berkisah tentang harapan dan cinta
terlarang, sebagaimana kisah-kisahku
yang ditabukan waktu
dan kini diburu rindu
Lamongan, 2008
Puisi Mashuri
Hujan Bulan Februari
jangan berharap hujan dari nyanyian
karena hujan dipantangkan datang ketika malam menjelang
apalagi kita sendiri…
tengoklah di jendela, cuaca seperti babi bengkak pantatnya
kau akan tahu seberapa siksa bakal berlaksa
ketika di kaca tertera tanda basah
lalu orang-orang berlalu lalang dengan perahu
sambil berteriak: ‘jangan biarkan anjing berlalu’
kita bukan anjing itu, kita hanya pesakitan
yang tak bisa lepas dari nafas hujan
kita selalu berharap ada yang berderap di atap
lalu kita menyanyi, mengusir sunyi ke dalam diri
sambil terus memelototi partitur yang hablur di udara
dan kita hisap tanpa suara…
tapi kini jangan berharap hujan atau memanggilnya
dengan nyanyian
biarkan ia lewat tanpa permisi, agar kita tak tahu
dan tak merasa kehilangan
biarkan ia tetap sebagai awan
Surabaya, 2008
Puisi Mashuri
Berdiri di Sebuah Kapal
berdiri di dek, menatap laut, cintaku hanyut
bersama bayangan
cakrawala pun serupa lengkung punggung kerbau
yang tak henti membajak tanah
di kampungku yang gelisah
ketika angin mempermainkan topi, aih
ada yang jatuh dari kepalaku
---sehelai rambut, mungkin kutu atau pikiran
pikiran rindu
tapi buih terus berdesakan di dinding kapal
mataku pun harus antri dan tak kunjung mengerti
sungguhkah ada yang runtuh dari diriku
bersama waktu mengendap, ke arah luar, ke kenang
yang jauh
perihal rumah, cinta yang usang dan rapuh, atau…
bibirku tersenyum seperti remaja yang menemukan
belenggu terlepas dari tangan
dan dada sesak oleh kebebasan
Surabaya, 2008
Puisi Mashuri
Doa Buat Pelacur yang Terbakar Semalam
sebuah pagi menghardikku dengan sepi
aku pun menghadirkan koran pagi, sepotong ubi
juga secangkir kopi
di halaman depan, anjing dan kucing berlari-lari
di halaman depan koran, tertulis: ‘pelacur mampus
hangus dilalap api’
aku ingat kebakaran semalam di layar televisi sialan
---api dengan jalang mengamuk rumah bordil
para perempuan hibuk berlari sambil bugil
tapi ada yang seperti Sita, diam terpanggang
kini, jiwaku pun menggigil
aku raih gorengan ubi, tapi ia jelma potongan tubuh tak rapi
aku angkat kopi, ia pun jadi darah hitam dan mendidih
karena ular di perutku kelewat lapar, aku tak ambil peduli
aku lahap tubuh hangus itu, juga darah beku
aku terus saja memamahnya seperti seekor kambing
yang tak lelah menggerakkan gerahamnya
dan kesepian pagi itu pun pecah di perutku;
ada kucing dan anjing berlari-lari di ususku, aku juga mencium
bau tubuh pelacur hangus di usus buntu…
aku lalu berdoa, “semoga pelacur yang terkubur bersama cinta itu
masuk surga”
aku pun berharap agar ia masih bisa melepaskan dahaga
kucing dan anjing yang berkejaran di perutku
yang sakitnya semakin tak terkira…
Surabaya, 2008
Puisi Mashuri
Perjalanan Luka
berjalan di atas rel, tak ada stasiun hari ini
kaki patah bukan sayap, hati patah pun gelap
kau tempel kata di jidat: ‘kami butuh tumpangan!’
tapi tak ada yang mendekat, orang langsung berangkat
kau gali lubang di ruang tunggu
kau minta karcis, lalu kau timbun dengan abu
perjalanan ini hanya luka dan mati
kau teringat kapal-kapal yang angkat sauh
kau tahu, semuanya tak kembali dan tak berlabuh
‘tak ada juga pelabuhan hari ini, bahkan di terminal
banyak roda tak bergigi…’
kau pun mulai mematahkan lengan, berharap
ada yang menemani kaki dan hatimu
tergolek di antara batang besi berkarat
‘agar aku bisa segera menyambar kereta cepat dan sampai
di stasiunku yang sekarat’
Surabaya, 2008