Senin, 06 Oktober 2008

Esei Kritik Sastra













Jalan Simpang Kritik Sastra di Jawa Timur (Juga Indonesia)

Oleh Mashuri

“Seorang kritikus sastra adalah seorang sastrawan yang gagal,” demikian pernyataan seorang pesastra Surabaya yang menjadi moderator dalam sebuah bedah buku di TB Gramedia, Delta Plaza, beberapa waktu lalu. Pernyataan itu menerbitkan sebuah tanya sekaligus renungan yang dalam. Apalagi ‘ekologi’ sastra di Jawa Timur terbilang timpang, di mana porsi produk karya tak seimbang dengan kritik sastra.

Sebuah ekologi sastra dikatakan berimbang, jika rasio antara penulis, karya, pembaca dan kritikus sastra juga berimbang. Di Jawa Timur, kondisinya cukup memprihatinkan karena karya sastra terus tumbuh, baik itu bergenre prosa maupun puisi, tapi kritiknya langka. Ada memang kritikus, tapi lebih banyak yang mengulas karya-karya yang sudah dianggap canon sastra. Padahal posisi kritik sastra dalam sebuah lingkungan sastra sangat penting, sepenting posisi sastrawan sendiri.

Kegunaan kritik sastra meliputi tiga hal utama, yaitu kegunaan pada ilmu sastra, penerangan/jembatan pada masyarakat/pembaca dan bagi perkembangan kesusastraan. Jadi kritik dalam dunia sastra bukanlah mencemooh atau menimbang baik dan buruk saja, tapi juga mengungkap sisi tersembunyi dan sisi yang tak tertangkap oleh pembaca umum/awam yang terkandung di dalam karya sastra tersebut. Selain itu, kritik sastra juga berguna terhadap ilmu sastra karena dari kritik inilah dimungkinkan muncul teori sastra baru. Begitu pun dengan perkembangan sastra, karena dari kritik inilah sangat mungkin muncul sejarah sastra baru dan bisa menjadi tolak ukur perkembangan sastra.

Anggapan Keliru

Selama ini, ada anggapan salah di publik kita, bahwa kritik selalu berorientasi negatif, padahal dalam sastra kritik adalah tafsir dan takwil pada karya. Ada kalanya sebuah karya dalam dunia sastra itu terlalu berat bagi pembaca awam, karena mengandung pemikiran-pemikiran dan gagasan yang mempertanyakan kemapanan dan seringkali berlawanan dengan selera publik. Maka, tugas kritik sastra adalah mengungkapkan dan menerangkannya. Di sisi lain, ada pula karya sastra avant garde yang mendahului jamannya sehingga pembaca pada masanya tak bisa memahami karya itu, maka kritik sastra sebagai jembatan. Dalam posisi ini, seorang kritikus adalah sosok yang cerdas. Dalam sejarah sastra Indonesia, hal itu sudah terbukti. ‘Chairil Anwar’ yang ditemukan oleh kritikus sastra HB Jassin adalah peristiwa yang bisa dijadikan pijakan seberapa pentingnya kritikus sastra dalam dunia sastra. Jassin melihat dalam puisi dan diri Chairil Anwar mengandung sesuatu yang bernilai bagi (kesusastraan) Indonesia.

Dalam tataran ini, seorang kritikus bukanlah orang yang gagal dalam berkarya, sebagaimana pernyataan pesastra Surabaya yang dikutip di awal tulisan ini. Kritikus sastra adalah seorang yang mememiliki kecerdasan istimewa yang bisa menafsirkan karya secara proporsional dan menggali makna dari kapasitas karya. Bahkan bisa melihat hal-hal tersembunyi yang bisa jadi tak terpikirkan oleh sastrawannya. Ada beberapa contoh kritikus sastra seperti itu. Misalnya, jika berkaca pada kritikus dan ahli sastra dunia Edward W Said, maka kita sungguh akan terperangah. Ahli sastra perbandingan dari Universitas Columbia itu mengungkap ideologi beberapa karya sastra Eropa yang ternyata menyimpan maksud tersembunyi, semacam kolonialisme. Dari kritiknya, ditemukan teori orientalisme yang demikian mendunia dan mempengaruhi beberapa ilmu lainnya, termasuk filsafat, sosial dan kebudayaan yang luas. Selain itu, Roland Barthes, pemikir dan ahli sastra dari Perancis, dalam sebuah tulisannya menyebutkan, seorang eseis dan kritikus seni juga seorang ‘sastrawan’. Ia telah membangun sebuah dunia dari teks-teks dan memperlakukan teks itu sebagai sebuah kesenangan dan karib. Dari beberapa contoh itu kiranya kritikus sastra bukanlah orang sembarangan.

Bisa jadi ungkapan ‘kritikus adalah sastrawan yang gagal’ adalah sebuah ‘black humor’ dalam kehidupan kreatif sastra dalam sebuah ekosistem sastra. Sungguh itu hanyalah sebagai sebuah humor semata. Bisa jadi, humor ini bermula dari kiprah HB Yassin yang dikenal sebagai kritikus sastra Indoesia berwibawa yang menekuni kritik karena karya-karyanya dianggap gagal.

Sastrawan Sekaligus Kritikus

Jika kita melihat daftar sastrawan kita lebih banyak yang merangkap juga sebagai seorang kritikus sastra dan dikenal sebagai kritikus yang handal. Dari Jawa Timur bisa dilihat pada sepak terjang Budi Darma. Penulis novel mashur Olenka ini tidak hanya seorang sastrawan, tapi juga ahli sastra dan seorang kritikus sastra berwibawa. Selain itu, dari kalangan sastrawan Jawa Timur bisa dilihat pada kiprah Akhudiat, Bonari Nabonenar, Moh. Shoim Anwar, Budi Palopo, Tjahyono Widiyanto, Tjahyono Widarmanto, S Yoga, Ribut Wijoto, Indra Tjahyadi, Imam Muhtarom, Achmad Faisal dan lainnya. Sedangkan dalam jagat sastra Indonesia, sekadar menyebutkan adalah Sapardi Djoko Damono, Soebagio Sastrowardoyo, Goenawan Muhammad, Afrizal Malna, Abdul Wahid BS, dan lain-lainnya. Umumnya kritik sastrawan bukanlah pada karya sendiri tapi pada karya orang lain dan perkembangan sastra.

Kiranya bukanlah sesuatu yang tabu bila seorang sastrawan juga merangkap sebagai kritikus sastra. Ini bisa dijadikan solusi bagi kelangkaan krikitus sastra di Jawa Timur. Selain untuk menyeimbangkan ekosistem sastra di Jawa Timur, bisa juga digunakan untuk menyampaikan gagasan, ide dan pemikiran sastranya. Seorang sastrawan yang cerdas memang harus bisa merumuskan gagasannya dalam berkarya, karena sastra adalah dunia pemikiran dan gagasan dan bukan sekedar pengrajin kata-kata.

Sebenarnya kelangkaan kritikus sastra di Jawa Timur adalah kasus laten dalam kesusastraan Indonesia. Meski demikian, bukan berarti kita harus mengamini mati suri kritik nasional itu sebagai biang langkanya kritik sastra di Jawa Timur. Hal itu karena wadah untuk menjadi seorang kritikus sastra di Jawa Timur terbuka dengan lebar. Tidak hanya jurnal-jurnal ilmiah yang banyak, mengingat cukup banyak fakultas sastra di Jawa Timur dan maraknya lembaga kebudayaan, tapi media massa umum yang bisa menampung tulisan kritik juga tersedia.

Selama ini ada beberapa kritikus sastra yang sudah dikenal di Jawa Timur, tapi sangat jarang yang berusaha untuk membahas karya-karya sastra yang tumbuh, berkembang dan berlatar sosio-kultur Jawa Timur. Sebenarnya, dari sini, juga menerbitkan beberapa tanya: Pertama, benarkah karya-karya sastra di Jawa Timur yang regional itu belum layak untuk dibahas dan disejajarkan dengan karya sastra yang bertaraf ‘nasional’. Kedua, bukankah karya bagus mulai bermunculan di Jawa Timur dan beberapa sastrawan Jawa Timur sedang naik daun dan menjadi perhatian publik dan disorot media nasional. Ketiga, apakah masih pas untuk saat ini dalam memilah antara regional dan nasional. Kiranya, waktu yang akan menjawabnya. Yang penting, habitat sastra di Jawa Timur harus seimbang, sehingga rotasi pengetahuan bisa berjalan dengan harmonis, nyaman dan kehidupan pun semakin indah dan bergagasan. (*)

1 komentar:

Binhad mengatakan...

Rek, mestinya ilustrasi tulisan sampeyan ini melahirkan kritik yang hebat juga, masak di-jarno wae, rek. Salam untuk gubernur ya. Salam dari Korea, www.binhadnurrohmat.com