Minggu, 16 Maret 2008

Lokalitas dalam Puisi

Sajak Mashuri


Tak Ada W di Madura

: Ahmad Faishal

1

di balik tanah kapur, tanahmu

kutemukan terumbu, tetunas karang, muasal asal

juga garam yang asin dan terasa kekal

pun kutemukan kisah-kisah karang, puisi-puisi terjal

juga aksara yang berdebur laksana selaksa gelombang

melebur lebar---dileburkan angin, dilebarkan akal

kuingat desing peluru yang pernah kau tembakkan

dalam percakapan malam, ketika

kita sembah kegelapan

demi terang dan pencerahan

desing itu terus memburu

: “lebih baik berputih tulang

daripada berputih pandang”

peluru itu terus memburuku

aku pun berlari ke diri, berkaca, bahkan

menyeberangi kota-kota, selat-antara: selat Madura

membalik dusta di mata

menyulap bencana menjadi kencana

lalu mengerling pada desing pelurumu yang lain

desing yang menghias dedinding nafas

: “bila buruk muka, kenapa cermin yang dibelah…”

serasa berabad-abad, kita menahan nafas

meski serapah menggenang di darah

menggulung waktu

memanggil-manggil kenangan merah

untuk berdiwana di aorta, tapi…

kini kita termangu di kapal penyeberangan

mencoba menyeberangi dua luka yang saling berjauhan

antara maut dan kemaluan

antara nyali dan kehormatan

antara kawan dan lawan

di balik tanah kapur, tanahmu

kutemukan terumbu, tetunas karang, muasal asal

juga garam yang asin dan terasa kekal

sekekal perih ketika garam diparamkan ke luka

luka kita

yang disayat dengan pisau berkarat

dalam kesabaran abad

2

aku mengerti, Madura bukan tanah persegi

aku pun mengerti, kata kadang tak cukup untuk berbagi

di sini, ketika kau lafadkan abjad-abjad ke seberang kiblat

dan kutemukan pelafadan cacat…

---jawa kau eja jaba, kawin kau baca kabin

sawah kau teriakan sabah, warna dengan berna

bahkan nyawa kau geramkan dengan nyabe--

bahkan berpuluh-puluh kata yang menyimpan w berubah

ketika kau deraskan lewat lidah

lidahmu, melewati jeda

persimpangan suara yang menggugah dan menyisakan tanya

ketika aku tanya, kenapa kau lafadkan kata-kata itu dengan salah

kau pun berkata: “tak ada w di Madura’

mungkin kau tak sekedar ingin berbagi lewat kata

tapi juga lewat pandang mata, gerak,

juga setia pada jejak-jejak yang tertanam di sepanjang tanah

di sepanjang jalan, sejarah

mungkin kau telah mengerti, Madura bukan tanah persegi

sehingga tak rugi

meski telah begitu banyak memberi, hati

lewat berkah tanahmu, sungguh

tak aku temukan cacat di lafadmu,

karena b selalu melebur w

di jejak ranah pelafalanmu

sebagaimana nafas lautmu yang selalu mengubur

dendam dengan kematian

gelombang yang tak pernah berhenti mematri

karang sebagai pelabuhan…

3

di depan pusara

pusara yang diagungkan darah Madura

aku terbata

lelaki yang terbaring dari selatan ke utara

itu bangkit, di mata

kuburnya terbelah; terbukalah peta

kulihat titik-titik arah

kulihat begitu banyak noktah dan nama-nama

di silang silsilah

: namaku tertera di sana

Surabaya, 2007

Hantu Ranjang

Ada hantu di kolong ranjang,

yang setiap kali

Menyundut bokong, kau pun melantang

: ‘oh, laki-laki!’

Kau mungkin takut sebagaimana dongeng

Yang pernah dianyam oleh ibu-ibumu di lubukmu

: ceruk yang coreng-moreng

Bahwa hantu, bahwa laki-laki, punya seribu ranjau

Yang bisa membuatmu perih

Tapi kini kau tahu, hantu atau ‘laki’ bukan untuk ditakuti

Kau begitu mengimani: bahwa hantu, laki-laki, hanya punya batu

Tak lebih

Kini kau tahu, kau tak lagi Mariyem yang terpana

Oleng, tapi Mary yang mampu

Menenteng

Berpuluh lenguh..

Dan setiap kali, tamu membuka pintu

Mantramu pun bergemuruh, meluruhkan tubuh:

“Dari Semampir-Tanjung Perak,

ludruknya nobong

Silahkan mampir Om-om, Bapak-bapak,

kamarnya kosong...!”

Ah, tapi semuanya bukan hantu, hantu itu

Kini, sembunyi di bilikmu

Kau pun terus memandangnya, mengikuti ujung ekornya

Menemukan matanya,

Di gelap kamarmu

Sambil kau dekap boneka kelinci, bantal kumal

Juga bayangan gambar-gambar penyanyi, pedangdut

Yang menyepi di dinding, di setiap jengkal

Rumput

di dinding hatimu, kau pun melengking

“janganlah kau takut padaku, Hantu;

aku pelacur

yang saban malam begitu setia untuk mendengkur

memberi tempat pada nada-nada yang menjauh dari kubur

kubur kejantanan para tualang, lelaki kesepian...

bolehkah aku beri nama kau adam

: pacarku, yang pertama, yang telah direbut malam”

sehingga setiap kali hantu itu berdiam di kolong

ranjangmu, lalu menyundut bokongmu

kau pun kini berguman lirih: “o, laki-laki, laki-lakiku

yang sebapa-seibu...”

Kau pun mengaji sinyal lemah yang pernah jadi denah

Muasalmu melangkah:

mulai dari warung-warung remang, binaan babah

Petak-petak kamar bangunsari, bangunrejo, kremil

Bahkan dolly, atau bordil yang pernah menjadikanmu terpencil

Ke gerbong-gerbong sidotopo, di pinggir rel wonokromo

“di makam cino,

kembang kuning,

aku pun pernah membuat para sontoloyo

loyo, dan terkencing-kencing...”

pada ibu-ibumu yang kini tinggal abu

di ingatanmu, kau pun pernah berkata:

“semua yang datang, lalu mekangkang

lebih hina dari binatang ---mereka hanyalah pejantan

yang butuh tanda tangan....”

mungkin kau butuh seorang laki-laki

yang bisa menjadi hantu di benakmu,

di pikiran sederhanamu sebagai perempuan, juga ibu

seorang yang bisa menggambar

kesunyian geletarmu, dalam balsam asap rokok,

bir,

sampai ayam berkokok

dan terdengar bibir bertakbir

sungguh laki-laki itu,

hantu, yang saban malam

tenggelam di kamarmu, dan menyundut bokongmu

dengan lisong dan batu.....

merenggutmu ke malam

ke waktu lain, yang membuatmu bisa berpaling

dari denting pelir, kelir takdir yang telah memarkirmu

ke pinggir segala pinggir...

Sidoarjo, 2007


Siti, Ayo Kawin Lari

Di ruang kelas, aku baca cerita

yang sering membuatku berpusing kepala

cerita yang mengingatkanku pada pacarku

yang kepalanya juga sering terancam pecah

cerita yang berpangkal pada cinta tak berpunya

dan berakhir dengan duka carita...

“syamsul bahri berlari-lari ketika siti melamun di tepi

perigi, sambil memuji diri sendiri

: akulah perempuan abadi!”

Aku lalu mengambil penghapus dari ruang guru

Membaca sebentar, meski berlembar-lembar

lalu dengan ringkas kupangkas

Nama yang selalu membuatku was-was

: Siti

pada Syamsul Bahri, aku sisakan hidupnya

karena aku tahu Marah Rusli pun menyisakan hidupnya

dalam cerita,

meski siti telah mati..

aku begitu kawatir, kalau Marah marah lewat guruku

dan menggantungku

di depan kelas, sambil terus menerus menjejaliku

dengan kertas-kertas, yang panjang

dan tak bisa aku ringkas

aku pun menulis begitu tergesa di kertas

: “Syamsul Bahri hanya mati sekali;

sekali nafas

terpangkas, sesudah itu impas, lunas...”

Siti telah mati,

aih, ternyata Syamsul Bahri pun mati

tapi kisahnya terus bersambungan di tv

aku pun menulis surat pada pacarku, Siti terkasih

yang kini sedang menunggu di kampung

: “mari kawin lari, Siti,

mumpung kisah belum ditulis bersambung

di televisi!”

Sidoarjo, 2007

Sihir Pasir

: Saudara Tua

mampirlah ke rumahku di pesisir, di pinggir pantai, di pinggir segala pinggir, tempat pasir memarkir takdir sebagai pembunuh; pasir yang saban hari tak lelah menjadi injakan kaki dan menjadi muara segala tubuh melabuh: tubuh lautan yang tak pernah mengeluh tapi menyulap keluh dengan nyanyian-nyanyian panjang

debur gelombang

kau akan mendengar karang ditabuh ombak, tubuh ditabuh riuh kehendak, kau akan melihat jejak-jejak retak yang membuatku tetap tegak meski gelap menggelegak bagai anggur memabukkan dan menyentak labirin kerongkonganku, kau akan menyaksikan…

ada gerak nan liar yang terpendam dalam diam

mampirlah ke rumahku; kau akan mengerti apa makna dari tepi: sepi yang berapi, merapi, sepi yang membahasakan diri di pucuk buih; bahasa-bahasa ombak yang menuntun mata; katupkan ufuk dengan cakrawala; rapatkan hiruk dengan rahasia

biduk asa yang tak berhenti untuk kembali

kau akan rasakan zenit meyentuh langit; doa-doa yang berdesing mengakrabi hening; doa putih, doa hitam; kau juga akan mendengar hingar doa yang memberi arus pada pasir, memberi ruh pada pasir, agar tubuh tak lagi berlabuh dalam gerak, tapi rubuh dan retak

lengan-lengan panjang yang merenda sejuta harapan

mampirlah ke rumahku, kau akan tahu, begitu banyak kanak belajar membunuh; mereka menghambur-hamburkan pasir di udara, dengan hembusan nafas yang telah terampas mata; mereka membuat patung-patung pasir gaib sebagai malaikat pencabut nyawa yang menyelinap di balik tangkapan indera

begitu dupa dibakar, doa dihentakkan dan bibir melaju: fuh! pasir-pasir akan beterbangan memintal korban, memburu setiap lubang yang terhampar di sepanjang kulit, bangkitlah kesakitan; pasir pun akan merasuki dan menyerbu darah dengan kekuatan-kekuatan langit; langit hitam ---sampai terdengar suara-suara ratap, pantai pun senyap, matahari gelap, awan berhenti, angin menepi; semuanya menyingkir untuk memberi jalan bagi kematian mengukir akhir

akhir penyaksian

kau akan tahu, bagaimana pasir-pasir itu menyatu darah, mengalir lewat aorta; arus hidup akan membawa bulir-bulir pasir lurus ke jantung yang berdegup, asal-akhir takdir Sang Hidup; pasir itu akan terus berasus ke ruas nafas, hingga hidup pun redup; jantung pun akan memberi jalan pada Sang Maut untuk bertitah: “berhentilah langkah, berhentilah darah!”

mampirlah ke rumahku di pesisir, kau akan mengerti, begitu banyak kanak bermain-main takdir, mainkan sihir-sihir pasir, rapalkan mantra-mantra pengusir; mereka berlarian di pantai-pantai tak beratap; membangun bukit-bukit dan patung pasir dari jasad yang telah lumat; jasad yang telah disepuh dengan doa-doa merah; doa kaum teraniaya, blap!

gelap!

Surabaya, 2007

Bunting

istriku mengandung laut,

laut yang mencederai otakku dengan karang,

karang yang mengutip cakrawala

cakrawala dan kapal-kapal yang berlalu lalang

bahkan tenggelam dan terbakar di selat

selat yang selalu membuat istriku kumat

: “beri aku 1000 rakaat!”

aku pun ingat rabiah ---budak yang menapak

lewat batu, ke tangga penuh jejak wahyu

lalu sering kumat dengan mengganyang ribuan

rakaat dalam sekali malam dan sekali sikat

tapi istriku? mungkin ia sedang ngidam

begadang, malam-malam, di atas sajadah coklat

sambil mulutnya komat-kamit, penuh magnit

menarik, menombak dengan tepat

pikiranku yang sedang panik, dalam tidur

agar dengkurku tak lagi menjadi partitur

mimpi

mimpi tentang orang-orang yang terkubur

: kakek, nenek, buyut, canggah, wareng, gantung siwur...

aku bermimpi, tapi istriku sungguh telah mengandung

laut dan kumat dengan komat-kamit ribuan rakaat

dengan doa-doa panjang nan keramat

membanting harga diriku, dari lelap dan bisu

tentang asal-asul, tentang laut, tanah, udara, angin, api

juga sepi

ah, sungguhkah istriku bunting karena angin

laut, yang membawa berjuta plankton

ke ruang kosong... sungguhkah istriku hamil

karena gigil malam yang membugilinya diam-diam

di pantai, ketika lantai tak tepat lagi menjadi ranjang

tempat berbagi

ah, sungguhkah....

istriku mengandung laut

laut yang sering membuatku tercerabut

dari waktu; aih!

Sidoarjo, 2007


Persetubuhan Angka

1

aku ingin kau memberiku sembilan mawar, yang kau bungkus

dalam tiga kardus, ditali dengan tiga temali,

lalu kau letakkan berjajar

menghadap pintu

: untukku, untukmu dan untuk rindu

mari bersulang, o daging yang rawan harapan

selanjutnya, aku ingin kau suguhkan tujuh cawan anggur, yang

kau tuang

dari lima botol, lalu kau sorongkan ke bibirku

lalu kau menghitung satu, tiga, lima dan tujuh

aku pun mabuk tubuh, mabuk gemuruh

aku akan menujumu dalam satu altar,

satu meja

sebagaimana satu kehendak yang labuhkan hasrat ke tubuhmu:

aku akan menujumu dengan dua kursi yang disatukan tubuh

sebagaimana kakiku dua, tanganku, mata, telinga, lubang hidung,

telinga...

juga rambut, juga sejumput rambut,

bahkan kelaminku yang selalu ingin bersatu maut,

mautmu

2

aku ingin kau memberiku tujuh

: bumi, langit, surga, neraka, juga hari

dalam sebuah nampan sesaji

dalam sebuah mimpi

aku ingin kau tahu, aku juga menginginkan lima

pasaran-hari, juga ihwal soal sudut bintang

yang selalu kau mimpikan dalam tidurmu

seperti igauanku yang tak pernah

lelah untuk terus memanggil namamu, seirama

dengan lubang

sembilan, membungkus tubuhku dengan mawarmu

: aku ingin kita bersatu

3

aku ingin menghidupi angka-angka di tubuhku

dengan angka di tubuhmu

1+1= setubuh...

Sidoarjo, 2007


5 komentar:

Musthafa Amin mengatakan...

Wah akhirnya, saya temukan blog sampean mas. Hehehe. Salam...

Ohh ya mas, sekalian berkunjung ke blog saya dan barangkali mas mau menurunkan ilmunya dengan memberikan beberapa komentar bermakna,

http://tongkronganbudaya.wordpress.com


Musthafa Amin

nikusinten mengatakan...

Saya baca dari atas sampai ke bawah
Pesan saya: manfaatkan energi bahasa dalam jiwa Anda yang sungguh luar biasa dan utamanya: jangan sia-siakan usia.

nikusinten

mashuri mengatakan...

buat mas musthafa amin, saya ucapnkan terima kasih. saya sudah berkunjung ke blog anda. semoga saya bisa meninggalkan 'jejak' di sana. hahaha.

mashuri mengatakan...

kagem 'nikusinten', matur suwun sanget, pak. saya akan memanfaatkan usia sebaik mungkin. semoga energi bahasa ini menjadi melimpah dan bermanfaat.

karya En Kurliadi Nf mengatakan...

saya suka puisimu bung..salam kenal juga kunjungi blog sya http://enkurliadinf.blogspot.com